Oleh: selendang | Juni 18, 2009

Tragedi menjelang Subuh

Mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera, adalah idaman semua wanita. Namun tak gampang mewujudkan keinginan itu. Apalagi jika sang suami terserang ‘Demam perempuan’.

          Mula – mula hanya iseng, tapi entah kenapa, lama – kelamaan aku jadi suka bertandang kerumah Santi (bukan nama sebenarnya). Padahal kutahu Santi itu adalah calo tenaga kerja ke Negara tetangga. Aku juga tahu, ia sering menipu dengan cara mengobral janji palsu, untuk memikat hati para pencari kerja.
Sebagai seorang calo, ia memang pandai berbicara dan merayu, sehingga wajarlah kalau ia berhasil mengirim puluhan tenaga kerja ke luar negri dengan jalan menjual mereka melalui sebuah perusahaan jasa pengiriman tenaga kerja. Tentu saja Santi banyak mendapatkan uang dari Pekerjaan itu. Sebaliknya , tidak sedikit pekerja yang tertipu , lantaran gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan perjanjian semula.
Entah kenapa, tiba – tiba saja aku merasa ingin sekali bekerja di luar negri. Ketika kuutarakan keinginanku itu pada suamiku, ternyata ia setuju . Malah ia berkata ‘’Sebenarnya ia hendak mengutarakan hal serupa padaku’’.
      Lewat Santi, aku benar – benar berangkat ke sebuah Negara tetangga. Tentu saja setelah aku menjual sebidang tanah untuk biaya ke sana. Untunglah nasibku baik,karena aku tak terlalu lama menunggu di sebuah tempat penampungan di Jakarta. Menurut cerita teman – temanku , kalau terlalu lama tinggal dipenampungan , maka nasibnya akan mengenaskan. Makan layaknya seekor binatang , ditambah lagi gangguan para lelaki hidung belang. Malah tak sedikit yang terpaksa menjual diri karena terdesak.

Setelah sampei di Negara tetangga, aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga.  Aku merasa tak banyak menemui resulitan , karena budaya dan adat istiadat majikanku tak jauh beda dengan keadaan di tanah air. Kebetulan mereka juga orang baik – baik., jadi aku cukup kerasan tinggal di sana. Aku bukan cuma diberi gaji sesuai dengan perjanjian, malah sering mendapatkan bonus. Sesuai janji pada suamiku, aku pun rajin mengirim surat dan uang. Kupikir, suamiku tentu merasa senang menerima kiriman itu.
      ”Demi Anak dan Suami’’
Rumah majikanku bersebelahan dengan sebuah bengkel Karoseri Mobil. Karyawannya banyak dan diantara mereka , ada yang berasal dari Jawa, bahkan sekabupaten denganku. Namanya, sebut saja Heri. Sebagei sesama perantau , naluri kebangsaan kami tak dapat disembunyikan. Kami pun berkenalan dan cepat sekali akrab.
Disaat tidak ada pekerjaan , Heri sering datang ke rumah majikanku. Tentu saja aku menganggapnya teman biasa, Kami sering bercerita tentang tanah Kalahiran . Lebih dari itu, aku juga sering meminjam uang padanya manakala ada keperluan mendesak dari kampung. Heri kelihatannya tak keberatan. Maklumlah, ia merantau kesini dengan berbekal keahlian sehingga memperoleh gaji besar.

        Tapi sungguh tak kusangka , ternyata dibalik kebaikannya selama ini, Heri mempunya maksud tertentu. Suatu hari, ketika majikanku sedang tak ada di rumah, Heri datang menemuiku. Tak seperti biasanya tatapan matanya memancarkan sorot mata birahi. Dengan rayuan manis,ia mengajakku berbuat seperti layaknya suami istri.

Rupanya Heri bukan orang sembarangan, karena ia tahu persis bagaimana menaklukkan hati wanita yang sudah setahun lebih berpisah dari suaminya. Tapi alhamdulillah, baru saja kutanggalkan pakean, tiba – tiba aku teringat anak dan suamiku. Allah SWT rupanya masih memelihara imanku. Segera kudorong tubuh Heri sekuat tenaga,dan bersamaan dengan itu, Terdengar bunyi klakson mobil majikanku di depan rumah. Heri bergegas keluar melalui pintu belakang.
       Setelah kejadian itu, Heri tak lagi main ketempatku, sebab aku pun semakin berhati – hati dan tak memberinya peluang sedikitpun untuk bertemu denganku.Hanya saja ketika masa kontrakku habis . Ia menemuiku dan meminta maaf atas segala kesalahannya.         ”Selamat tinggal Negri Jiran !’’, kataku dalam hati. Saat pesawat yang kutumpangi lepas landas.Aku membayangkan betapa senangnya bertemu kembali dengan suami dan anak – anakku tercinta, mengenang keadaan desaku yang telah kutinggalkan begitu lama .

Sesampei dikotaku,hari sudah larut malam,terpaksa aku naik ojek menuju kampung. ‘’Kang!’’, jeritku seraya memeluk suamiku.’’Mana anak-anak kita?’’, lanjutku. ‘’Mereka sudah tidur’’, jawabnya acuh. Suamiku meminta agar aku istirahat saja dulu. Tentu saja aku tak mau, karena aku ingin sekali melihat wajah dua anakku yang masih kecil – kecil itu. Suamiku tetap tak memperbolehkan.

 Aku merasa heran. ‘’Kenapa kang?’’, tanyaku. Kemudian aku melihat – lihat keadaan rumah, ternyata banyak sekali perubahan.. Meja kursi sudah tidak ada. Bufet, lemari, dipan kecil,semuanya tak Kelihatan.Ketika ku tanya, suamiku menjawab  ringan saja, bahwa barang – barang sudah dijual untuk makan.

   ”Lalu kemana uang yang selama ini kukirim, Kang?’’,tanyaku sambil menangis. Belum lagi suamiku Menjawab,tiba-tiba dari kamarku muncul Santi, wanita yang dulu menyalurkanku bekerja di Negara tetangga.’’Suamimu minta aku tinggal di sini selama kamu dirantau. Uang yang kamu kirimkan tiap bulan, sudah ludes untuk main judi suamimu!’’, begitu kata Santi.

Aku menjerit sekuat – kuatnya. Sejenak kurasakan beban yang teramat berat menindih Kapalaku. Aku tak habis pikir, betapa teganya suamiku Kapadaku.
Demi kesejahteraan keluarga aku rela memeras keringat di Negri orang, tapi ia malah memporak – porandakan keutuhan rumah tangga kami.
        Dalam keadaan limbung, aku berlari dan berlari, sampai di tepi sungai lebar yang airnya mengalir deras.Dengan hati yang hancur ,aku ingin sekali menceburkan diri kedalamnya.Namun belum sempat badan ini melompat ,samar -samar aku mendengar suara adzan. Aku baru sadar , itu panggilan adzan subuh dari sebuah masjid di seberang sungai .

Sejenak aku tertunduk lemas.Subhanallah, lagi – lagi Engkau telah menyelamatku , Ya Rabbi.Akhirnya aku melangkah menuju rumah dengan gontai. Dalam setiap langkah, aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini adalah ujian keimanan.Biarlah semua yang terjadi itu menjadi sebuah Kenyataan hidup, betapapun pahitnya. Sekarang, aku harus menata hidup ke depan dengan hati ikhlas, meski tak tau apa yang terjadi dikemudian hari.


Responses

  1. Istri…jagalah anak-anak dan suami, tungguilah anak-anak dan suami, uruslah rumah tangga dan jangan tinggalkan rumah.
    Apa kau mengira kebutuahn suami ada harta dan uang ? bukan !!!
    Kebutuhan suami ada pada istri, dan kebutuhan istri ada pada suami.
    Kembalilah dan mulailah hidup baru, jika memang masih mencintai suami dan anak-anak.
    Jika rasa cinta sdh hilang, berpisah bukanlah hal buruk. Tapi jika dengan kembali kpd suami, akan menjadi lebih baik, kembali kpd rumah tangga yg dulu…dan mulai lagi.
    Tidak ada kata terlambat, sebelum ajal menjelang.

  2. makasih atas nasehatnya, sangat bermanfaat sekali.
    moga cerita ini bisa dijadikan bahan renungan bersama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: