Oleh: selendang | Juni 17, 2009

Jejak Kasih

Arif (21 th), adalah potret kecil seorang anak negri yang harus bersusah payah berjalan ribuan mil, demi mengais rezeki di negri sebrang. Setelah tanah Kelahirannya  tak lagi bisa memberi harapan , ia nekad bulatkan tekad merantau ke negri jiran, berharap bisa menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya.   

Ia rela meninggalkan semua rasa ‘manja’ yang selama ini menggelayutinya. Kepergiannya pun meninggalkan kenangan indah dan tetesan air mata. Terutama nenek nya yang dulu tahu betul, sepertinya Arif tak kan bisa jauh-jauh dari ibunya.    Tapi Arif telah berubah, predikat itu seketika sirna bak kapas yang terembus angin  ditelapak tangan yang terkepal.

Keputusan ayahnya untuk menikah lagi , sama sekali tak diperkirakan sanggup meluluh lantahkan ‘kerapuhan’ Arif. Ia pun menjelma menjadi pemuda tegar yang mengambil alih bendera perjuangan keluarga yang sempat tumbang.

Arif membulatkan tekad untuk pergi merantau agar bisa menyelamatkan bisnis keluarganya. Namun kepergian Arif ke Malaysia , meski direstui sang ibu yang masih sangat terpukul atas kepergian nenek nya .Ternyata menjadi salam perpisahan bagi keluarganya .Harapan mulianya untuk membangun  kembali dinasti ‘Kerajaan bisnis’ sang ibu, ternyata tak seindah kisah cinta Cinderella.Arif justru terperangkap dalam penjualan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)). Hingga nyawanya pun hampir saja tergadai .

Dan kisi-kisi hidup itu sepertinya harus terus bergulir mengikis ketegaran Arif .Dalam perantauannya, sang  Ibu satu-satu nya tumpuhan hidup jiwa dan raganya justru mengalami goncangan jiwa, ‘setres’. Dan yang lebih berat , Arif sengaja tidak diberitahu karena dikhawatirkan akan menimbulkan malapetaka yang tak diinginkan ,Arif rupanya kecewa. Penyakit sang Ibu ,justru menjadikan keberadaan Arif bak maya dihati ketiga adik pr nya. Arif menghilang.

         Nasib, dalam sebuah uangkapan klasik sering diibaratkan  sebagai roda . Kadang-kadang ia berada diatas, terkadang dibawah. Kadangkala melesat kepuncak kemakmuran .Kadang-kadang menyatu dengan tanah dan berkubang lumpur, bahkan kotoran. Sebuah ungkapan lain mengatakan ,’Nasib itu laksana bayang-bayang .Semakin dikejar,  semakin kencang ia berlari.  Dan ketika ia berhenti ,ia pun diam ditempat’. Ungkapan diatas sekedar menggambarkan betapa susahnya meramal nasib seseorang .

Ya, nasib hidup yang akan menimpa manusia memang tidak bisa ditebak dengan pasti .Ia berputar pada garis edar kehidupan, sesuai dengan Kehendak Yang Maha Kuasa.  Walau pun begitu , nasib bukanlah harga mati.Ia bisa dirubah seiring dengan usaha dan do’a yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, bisa saja seorang gelandangan suatu saat berubah menjadi hartawan.

         Semenjak kepergian Arif (kakak tertua), hidup Rani dan kedua adiknya diwarnai oleh kegetiran dan kesengsaraan. Bagi mereka hidup ini tak lebih dari sebuah mimpi buruk yang senantiasa hadir menghantui dan menyiksa jiwa. Rani terlanjur menilai hidup ini sedemikian buruk . Karena memang itulah Kenyataan nya yang ia alami saat itu .

Sedangkan ayah mereka , tak pernah lagi memperhatikan istri , apalagi anak-anaknya. Dia sering pulang larut malam , bahkan tak jarang dalam keadaan mabuk. Setiap kali ditanya alasan nya, hanya siksaanlah yang diterima istri. Dan pipi Rani selalu menjadi langganan tamparan tangan nya yang kekar, saat mencoba membela ibunya. Sedangkan kedua adiknya hanya bisa menjerit histeris dan menangis dibalik pintu kamarnya. 

      Rani selalu berdo’a ’Semoga Tuhan memberi petunjuk kepadanya’. Namun rasa nya do’a itu sia-sia belaka. Ayah mereka bukannya bertobat , malah tingkahnya semakin lama semakin brutal saja. Bathin ibunya sangat tergoncang karna suaminya tak pernah lagi pulang ke rumah, dan betah tinggal di tempat istri mudanya. Kini , Rani harus hidup mandiri, untuk menghidupi kebutuhan diri sendiri , Ibu dan kedua adik nya. Namun syukurlah, Rani selalu berhasil membuang prasangka buruk ke pada Nya. Dengan keyakinan ‘Bahwa Engkau tak sekali-kali membebani hamba Mu dengan beban yang tak akan sanggup dipikulnya’. Meski terasa mamilukan ,alhamdulillah Rani masih kuat menapaki hidup ini.

     Ya Rahman ,bilakah ujian ini berakhir, dan berganti dengan secercah sinar yang mampu menerangi hidup kami ?…kami rindu sekali dengan kelapangan jiwa ,agar hati ini tak selalu merasa sempit karena tak ada gambaran yang jelas tentang masa depan. Ya Rahim, aku terus berdo’a kepada Mu, sampei Engkau tunjuk kan jalan terbaik bagiku .Dan janganlah Kau masuk kan aku kedalam golongan orang – orang yang putus asa dalam berdo’a. Peliharalah aku dari sikap putus asa terhadap rahmat Mu, Ya Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: