Oleh: selendang | Februari 23, 2009

Dilema dalam hidupku

Sepi, malam terus berjalan, begitupun sang waktu.
jarum jam semakin jelas terdengar, mengusik keheningan malam
sesekali ku coba tuk memejamkan mata, namun tetap saja kutakbisa…alah emboh kesel ..! tak banting jamku,hehe.
     Dulu, pernah ada niatan dalam hatiku, bahwa dalam hidupku ku hanya ingin bahagiakan ibu dan keluargaku. Juga berbagi kasih dengan sesama, semampuku.
Dan dulu , aku berkeinginan tuk tidak menikah, dosakah aku..?, dosakah jika disisa hidupku, ku hanya ingin melihat kebahagiaan mereka.
Aku merasa normal, punya cinta dan ingin dicintai. Tapi entah kenapa aku merasa takut tuk melangkah kekehidupan baru. Apakah ada wanita yang memiliki asa sepertiku..?,itulah secercah asa yang dulu pernah tersirat dibenak ku. Bukan sebuah janji , dan bukan pula sebuah ikrar suci. Hanya sekedar asa , yang kadang datang dan lantas berlalu.
        Kini, aku semakin takut tuk menentukan jalan hidupku. Enggan dan bimbang menyelimuti jiwaku. Sepertinya ku semakin terbiasa dengan kesendirianku. Usia hidupku semakin senja. Namun arah hidupku hingga kini belum terarah juga  (bingung).
 ‘Menikahlah anakku, usia dan pemikiranmu sudah cukup dewasa’, nasihat ibu yang sesekali terngiang.
 ‘Bilakah kau kan kembali, nak..?, kerinduan ibu semakin menyiksa bathinku’.
Dengan apa dan semua yang telah kuberi, ternyata belum bisa membahagiakan ibu.
 ‘Keberadaanmu didekat ibu adalah inginku, bukan harta atau permata yang ibu pinta’.
 ‘Ya, nantikanlah aku ibu’.
 
Masih terbayang dipelupuk mata,kasih sayang bunda untuk anakmu.
Bercucuran air matamu membesarkannya, tulus kasihmu tiada noda.
Satu harapanmu kan ku junjung tinggi, pesan tertanam begitu haru.
Nyanyian syahdu penghantar tidurku
saat malam menyambut pagi
kini negri sebrang buatku mengerti
kerinduan akanku kembali
telapak kakimu tempat keningku mencium
do’a selamat antarku pergi
bunda, biarkanku menangis
agar hati ini semakin mengerti
lelap tidurmu dulu terganggu
tak terbalas kasih sayangmu
ku rasakan damainya hati ini
tatkala kumendengar suara bunda
bisikan suaranya menyejukkan kalbu
meski jauh, namun nasehat dan do’anya senantiasa mengiringi langkahku.

Responses

  1. post bermutu bro.hehe

  2. thanks sarannya.

  3. yo mas opo mbak, uapek tenan puisimu kwi aku ngantek ngguyu dw

  4. hehe, lek guyu ojo suwi2 marai weteng senep wae.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: