Oleh: selendang | November 16, 2008

Rindu Kampung (Cerpen)

Hatiku sedikit mengeluh, saat melihat halaman rumah sudah kotor kembali, oleh daun-daun kering yang berserakan.Padahal belum lama ku bersihkan .
      ”Huh, kalau begini bisa-bisa aku dibilang tidak bekerja oleh si nenek sihir itu”. Aku mengusap peluh di dahi selesai menyapu dan mengepel lantai bawah.
Rumah majikanku sebuah villa 3 lantai . Ada taman bunga,kolam renang dan kolam ikan. Serta beberapa pohon rindang yang mengelilingi villa, sedang hanya aku seorang pembantunya.
       Musim panas memang melelahkan . Debu-debu beterbangan, daun-daun yang  mengering berjatuhan ,membuat pekerjaan seperti tak pernah tersentuh oleh jari tangan.
Ku angkat kaki menuju lantai dua.Ku tinggalkan halaman yang sudah penuh daun-daun berguguran. Karena hanya membuat hati berkeluh kesah, ‘kesal’.
Kumulai lagi pekerjaan dengan basmallah, kulakukan penuh hati-hati. Dan akhirnya selesai juga lantai-lantai rumah mewah itu.
Ku bersihkan tepat saat hp di sakuku berdering,hani memanggil.Teman sebelah yang kerjanya merawat dan menjaga villa,sedang majikannya hanya pulang seminggu sekali karena berbisnis di China. Ku angkat hp sambil menyelonjorkan kaki di lantai.
       ”Assalamu’alaikum . Kak , nenek sihirmu ada ngak?,” tanyanya dari sebrang.
       ”Wa’alaikumsalam. Ngak ada.” jawabku singkat.
       ”Keluarnya lama atau tidak?,”
       ”Makan langsung main mahjong katanya.”
       ”Ada yang bisa ku bantu?,”tanyanya menawarkan diri.Memang hani sering bantu-bantu aku, bila majikanku tidak ada di rumah.
       ”Kolam ikan atau kolam renangnya sudah waktunya ganti air belum?,” tanyanya lagi. Dan memang biasanya  dia hanya bantu-bantu bagian luar saja.
       ”Kolam ikannya belum lama kubersihkan , tapi tamannya yang minta dirapikan. Kamu ada waktu apa?” tanyaku basa-basi.
       ”Oo…Kalau itu tentu bos!. Tapi imbalannya masih seperti yang dulu ya?” pintanya. Dan aku sayang padanya seperti adikku sendiri. Usia hani lebih muda 3 tahun dari umurku.
Perilaku dia, selama aku mengenalnya tidak macam-macam. Dan yang paling kusuka , dia itu cerdas.
Seperti biasa, karena dibantu sama hani pekerjaanku lebih cepat selesai. Namun aku harus mengajarinya membaca Al-Qur’an, sebab dia mualaf.
Masuk islam 2 bulan yang lalu sekembali dari mesir menemani majikannya rekreasi ke kota Nabi tersebut. Memang belum sempurna bacaannya , tapi sudah lancar.
Dan pohon rindang di sisi kanan pintu pagar villa jadi saksi . Kami sering diskusi atau berbagi cerita banyak hal , membuat kami layaknya saudara. Saudara senasib dan seiman.

…….
Setelah pekerjaan selesai semua, aku duduk di bawah pohon rindang , tempat aku dan hani bersantai . Tapi kali ini dia tidak ada ,sudah 2 minggu cuti pulkam (pulang kampung). 
Entah mengapa, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.  ”Hmm, sekarang hani lagi ngapain ya?, kenapa sms ku belum dibalasnya juga?” tanyaku dalam hati.
           Angin kencang membuat suasana musim panas semakin tidak nyaman. Daun-daun semakin banyak yang gugur Karena sang pohon menghemat air persediaan ,
supaya bisa bertahan hidup sampei musim penghujan tiba. Apalagi sekarang bumi semakin panas , yang disebabkan banyak pohon2 di potong. Dan diganti dengan rumah-rumah megah berbahan kaca.
Sampah dan plastik semakin menumpuk. Pabrik-pabrik semakin banyak berdiri, kendaraan bermotor semakin menambah buruknya polusi udara.
          Terbayang saat aku baru berumur 9 tahun, desaku sangat menyenangkan. Udaranya bersih,karena masih banyak pohon2 rindang tegak berdiri. Dan penduduk jarang yang punya kendaraan bermotor.
Rumahnya masih terbuat dari bambu, hanya orang-orang tertentu yang rumahnya berdinding bata. Tetangga kanan kiri masih sangat akrab ,apalagi bila purnama. Beberapa keluarga berkumpul,
disalah satu teras rumah salah seorang tetangganya, sambil bertukar makanan yang sangat sederhana. ‘Ketela rebus plus sambal bawang, jagung rebus dan kacang goreng‘, sudah cukup membuat antar
tetangga menjadi rukun damai. Anak-anaknya bermain petak umpet dibawah sinar bulan .Teriakan, canda tawa kami membuat suasana semakin hidup dan ramai, ‘indah’.
Berbeda bila bulan suci Ramadhan tiba. Aku merasakan perbedaan menahan lapar dan haus di bulan puasa ,bulan penuh berkah yang menjadikanku ‘sejajar’ dengan orang-orang kaya.
Sama-sama menahan rasa lapar dan haus ,tapi nuansananya tentu berbeda. Kalau di bulan Ramadhan ,rasa lapar dan haus itu tidak terasa. Mungkin di situlah letak kekuatan niat yang menjadikan ku kuat secara fisik.
     ”Nak!.Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum,tapi juga nafsu.” kata ibu pelan, saat melihatku mengeluh membantu pekerjaan ibu di dapur.
Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum dan berkata, ” Makasih bu, dah di ingatkan lagi”.
Tapi jaman sekarang, mana ada suasana seperti itu? . Semua orang pada sibuk dengan urusan-urusannya sendiri. Orang tua  sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena rejeki sepertinya tidak barokah, alias terus terasa kurang .Anak-anak pada suka nonton tv atau main PS (plastaysion), dari pada belajar. Mungkin karena terlalu  mengentengkan ilmu ,
sebab  merasa bisa didapat dengan mudah mendapatkan informasi dengan fasilitas terkini. ‘Koran,telepon, televisi dan internet ‘.
     ”Ah, jaman dulu memang sangat berbeda dengan jaman sekarang ” aku mendesah pelan.
Ilmu dunia makin luar biasa dan mudah di dapat, tapi ilmu hati (hidayah) hanya Allah saja yang berhak memberinya, pada siapa saja yang dikehendaki Nya. Seperti yang terjadi pada hani tetanggaku di rantau ini.
Di sini, dia berkisah….
Saat di ajak majikannya rekreasi ke Mesir , dia masih bertuhankan Yesus,hingga keberadaannya di negri itu tinggal 2 hari. Sore itu dia minta jalan-jalan di sekitar hotel tempat menginap.
Tak terasa, dia berjalan semakin jauh meninggalkan hotel. Dan baru sadar saat alarm di hp yang diaturnya sebelum berangkat berbunyi, memberi tau waktu yang di berikan majikannya telah habis, alias harus kembali ke hotel.
Dia bingung berada di daerah mana. Karena 2 jam hanya di buat berjalan saja, yang tentunya sangat jauh. Lalu, dia berbalik ke arah sewaktu datang dan tergesa-gesa berjalan menuju hotel.
         Setengah jam kemudian, dia kecapek an. Dan tepat di depan masjid merasa tidak kuat lagi berjalan ,dia tengok kanan kiri kiranya ada tempat penukaran uang. Sehingga bisa di gunakan untuk menukarkan uang,
untuk membeli minuman juga naik kendaraan, tapi tidak ada.
Dan di saat dia putus asa, dari dalam masjid keluar 2 orang wanita kearah jalan raya . Lalu ketika sudah dekat dari dia terduduk , buru-buru dia menghampiri  dan bertanya pada keduanya.
Yang tak disangkanya kedua wanita itu mahasiswi-mahasiswi  dari indonesia , yang menuntut ilmu di salah satu universitas di negara itu.
          Hidayah bisa di dapat oleh siapa saja, begitu juga hani. Sudah sering dia di ajak majikannya rekreasi ke negara-negara lain. Dan sudah biasa dia minta jalan-jalan sendiri di sekitar tempat menginap,
tapi belum pernah ada masalah. Dia juga tak pernah lupa mencatat alamat tempat tinggalnya .Dan keberuntungan besar saat dia kesasar, seperti waktu itu.
Akhirnya, oleh kedua mahasiswa itu, dia diantarkan ke hotel dengan naik bus. Dan saat dalam perjalanan itulah , dia terpesona oleh sikap keduanya. Dia beranikan diri bertanya tentang islam , juga agama-agama lain.
Dan jawaban-jawaban mereka berdua benar-benar bisa menyentuh hatinya.
Sebelum berpisah , salah seorang dari  kedua wanita itu memberinya 2 buah buku , sebagai kenang-kenangan katanya. Dan dari buku itulah , akhirnya dia memilih memulai hidup baru dengan islam.
      Aku tersenyum sendiri , hidup baru menurutku untuk sebutan 2 orang yang menikah . Tapi bagi hani , semangat dan perjuangan untuk mendalami agama barunya dengan sungguh-sungguh,’luar biasa’.
        ”Sitiiiiii…!. Seketika aku membuka mata, mendengar panggilan melengking itu, karena aku hafal suaranya.
        ”Nyonya…” kataku tergagap ,karena majikanku telah ada di depanku.
        ”Senyum-senyum sendiri !. Bolak balik kutelpon tidak di angkat !. Ngapain saja di sini? , apa kerjamu sudah selesai semua, hah ?”
Aku tak menjawab, sebab yang bertanya telah berlalu masuk rumah. Namun kemudian , aku mengikutinya dari belakang.
        ”Nanti malam aku tidak makan di rumah, kamu makan sendiri. Jendela , pintu rumah, dan pintu pagar kamu kunci semua !.Mungkin aku pulang larut malam, jadi biar aku buka pintu sendiri .” pesan nyonya seraya naik ke lantai atas.Namun tak lama ,
         ”Sitiiii…..!.seterikakan bajuku!”
         ”Ya nyonya.”jawabku dan langsung melaksanakan permintaannya.
Tit..tit..tit, terdengar bunyi sms masuk. Kubuka dan kubaca , cerita hani tentang indonesia lewat sms itu benar-benar mengusik hati. Aku jadi rindu pada kampung halamanku , yang sudah sekian lama kutinggalkan.


Responses

  1. Simak terus update diskusi antara Hizbut Tahrir dan mantan Hizbut Tahrir, tentang Hizbut Tahrir dan da’wah khilafahnya di :

    http://mantanht.wordpress.com

    Semoga menambah wawasan kita bersama.

  2. makasih atas infonya, sangat bermanfaat sekali..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: