Oleh: selendang | Juni 8, 2008

Bisnis Perdagangan Manusia oleh Negara

 
 
02-05-2008
 
Trafficking in person bukan fenomena baru di Indonesia. Meski perdagangan orang ini dapat terkait dengan siapa saja, orang seringkali mengidentikkannya dengan perempuan dan anak. Hal ini cukup beralasan karena pada banyak kasus, korban perdagangan perempuan dan anak lebih menonjol ke permukaan. Unicef (1998), misalnya, melaporkan bahwa jumlah anak yang dilacurkan diperkirakan berkisar antara 40.000 dan 70.000 yang tersebar di 75.106 tempat di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan lebih rentannya perempuan dan anak untuk diperdagangkan.

Trafficking umumnya juga dikaitkan dengan prostitusi. Dalam kasus rekrutmen TKI pun trafficking banyak dikaitkan dengan penipuan-penipuan dalam proses rekrutmen yang ternyata dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) di dalam maupun di luar negeri. Dalam hal ini wilayah-wilayah seperti Medan, Batam, Tarakan, Nunukan, Makassar dan Parepare merupakan daerah tujuan (destination area) sekaligus sebagai tempat transit (transit area) trafficking dalam bentuk eksploitasi seksual, tergantung dari mana mereka berasal dan kemana tujuan mereka.

Sedangkan untuk tujuan ke luar negeri, mereka kebanyakan dan paling rentan dipekerjakan di negara-negara tetangga seperti, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan dan Jepang. Pada awalnya mereka dijanjikan dengan pekerjaan yang bervariasi, misalnya sebagai pelayan toko, pelayan restoran, atau pekerja rumah tangga (PRT), tapi pada kenyataannya mereka dijerat sebagai PSK. Banyak di antara korban adalah perempuan-perempuan belia.

Namun sebetulnya kasus-kasus trafficking tidak hanya terkait dengan masalah eksploitasi seksual, tapi juga terjadi dalam pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dianggap bukan trafficking. Buruh migrant di kebun kelapa sawit di Malaysia cukup banyak yang mengalami hal ini. Mereka terjerat dalam sindikat perdagangan manusia. Mereka direkrut oleh calo yang mengiming-imingi mereka gaji yang menggiurkan, padahal mereka dijual kepada kontrek (kontraktor) nakal dengan harga antara RM 1.500 dan RM 2.000 (antara 4 juta dan 5 juta rupiah), begitu transaksi antara calo dan kontrek berlangsung, mereka yang diperdagangkan ini berada di bawah kekuasaan kontrek dan bekerja tanpa upah. Mereka hidup dalam barak-barak ditengah kebun yang dijaga para centeng bersenjata.

Menurut pengakuan beberapa orang yang pernah berhasil melarikan diri dari perkebunan tersebut, mereka hidup bagaikan dalam zaman perbudakan. Tinggal dibarak tanpa sekat yang dijejali ratusan buruh, laki-laki maupun perempuan, makan dari beras jatah yang sudah apek dan kadang berkutu hanya dengan garam, ikan asin dan minyak goreng. Konon ada yang sampai puluhan tahun mereka disekap dalam kondisi tersebut dan tidak mendapatkan upah. Pada saat berhasil keluar melarikan diri dari kebun tersebut si nara sumber ini dalam keadaan sakit dan sudah lupa hari, tanggal dan tahun.

Tahun lalu Pemerintah RI dan DPR mengesahkan UU No. 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Pijakan undang-undang tersebut adalah Konvensi PBB tentang Pencegahan dan Penindakan Perdagangan manusia. Berdasarkan UU ini, definisi perdagangan orang adalah suatu tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

Jika merujuk pada definisi di atas, maka sebetulnya tidak ada pembatasan bahwa perdagangan orang hanya terkait dengan jenis kelamin atau usia tertentu, prostitusi ataupun pekerjaan tertentu. Dalam hal pelaku, siapa pun bisa dijerat dengan undang-undang ini. Bahkan mungkin pemerintah bilamana lalai atau membiarkan terjadinya tindak pidana trafficking.

Namun efektifitas undang-undang ini sejauh ini masih meragukan. Sebagai misal, dalam perkara buruh migan pemerintah adalah pelaksana penempatan, bukan saja pengawasan. Padahal dalam buruh migrant ratusan kasus besar terjadi, bahkan mungkin ribuan. Belum terhitung kasus yang tidak terbuka misalnya kondisi bekerja “semacam perbudakan” sebagaimana juga disebutkan dalam undang-undang ini. Berapa banyak buruh migrant yang bekerja dalam kondisi “semacam perbudakan” ? Artinya, bisakah dikatakan bahwa negara sebetulnya merupakan pelaku bisnis perdagangan manusia ? (andre, bowo)

 sumber : www.buruhmigran.com


Responses

  1. saya fikir perdagangan manusia emang sangat rentan. kadang seseorang tidak menyadari bahwa mereka di perjual belikan untuk kepentingan segelintir orang.tetapi yang lebih jengkel lagi, mereka sadar di perdagangkan.ya….alasannya sih karna uang, uang dan uang

  2. yup , benar mbak.
    kasian banget buat mereka yang sudah diperjual belikan , harusnya pemerintah cpt tanggap , dan segera menindak lanjutinya.
    uang memang terkadang bs membutakan mata hati kita .

  3. mereka yang menjual perempuan itu tidak punya hati nurani, dan tidak terpiir kalau suatu saat anaknya juga di jual demikian, apa dan bagaimana hati. mereka hanya mementingkan kepentingan kantong sesaat, ingat hukum karma akan berlaku pada sipenjual wanita ini.
    Cobalah punya hati nurani

  4. mata hati mereka telah tertutup oleh uang. alasannya selalu saja terbelit masalah ekonomi, makanya mencari jalan pintas.

    kasihan banget nasib wanita2 itu , selalu aja jd korban.
    syukurlah ,aku masih bs mendapatkan pekerjaan yg halal.

  5. dunia memang selalu berputar trkadang tren masa lampau akan kembali terulang seperti halnya perbudakan…ingat wahai kalian para mnusia yg tdak memiliki hati nurani keadilan allah psti kn datang cpat tau lambat aib yg klian sembunyikan pasti terungkap

  6. moga mereka cpt sadar dan kembali ke jalan Nya, amin.

    thanks nasehatnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: