Oleh: selendang | Mei 23, 2008

Melajang di Usia Tigapuluhan

Oleh: Ummu Nabilah
http://www.kafemuslimah.com

Suatu hari di sebuah acara, saya bertemu dengan seorang teman lama. Ia tampak tujuh tahun lebih muda dari usianya. Kami saling menanyakan kabar setelah lebih dari sepuluh tahun tak jumpa. Kini, ia masih sendiri di usianya yang tiga puluh empat tahun.

Ia tidak sendiri. Banyak di tengah-tengah kita para wanita yang juga masih melajang di usianya yang sudah kepala tiga. Malah, tidak sedikit dari mereka sudah berusia lebih dari tiga puluh lima tahun. Entah apa penyebabnya hingga mereka belum menemukan pasangan hidup di usia mereka yang sudah cukup matang. Itu semua adalah rahasia Allah. Hanya yang saya ketahui, mereka yang saya kenal adalah wanita baik-baik. Wanita yang layak untuk dicintai, menjadi istri dan seorang ibu.

Pernah terbersit dalam pikiran saya, seandainya saya seorang laki-laki dan boleh memilih istri sesuka hati, maka pilihan saya akan jatuh pada salah satu dari mereka. Sebut saja namanya (bukan nama sebenarnya) Aisyah. Ia seorang yang berwajah relatif manis, pintar, baik hati, lembut, dermawan, suka berkorban untuk orang lain, pendeknya berbagai kelebihan melekat padanya. Ia pun seorang yang biasa-biasa saja, bukan tipe orang yang menetapkan standar tinggi untuk pasangan hidupnya.

Maka, apalagi jalan yang menghalanginya untuk segera menemukan sang jodoh? Jawabnya adalah, semua itu belum dikehendaki-Nya. Sebagai orang beriman, tentu kita harus bisa mencari hikmah di balik keputusan Yang Mahakuasa ini. Allah menjelaskan, ”Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah:216).

Namun, tak mudah menjalani kehidupan ini seorang diri. Tuntutan keluarga untuk segera menikah yang tak hanya satu dua kali terdengar kerap membuat hati kian merana. Kondisi ini diperparah lagi dengan pola pikir masyarakat kita yang masih kurang memahami hakikat kehidupan ini dan masih sering mempersoalkan status para wanita yang masih melajang di usia yang sudah matang.

Saya sendiri menikah pada usia yang juga sudah tigapuluhan, tepatnya tiga puluh satu tahun lebih enam bulan. Belum terlalu tua memang. Namun, sudah cukup tua bila dibandingkan dengan orang-orang di sekitar saya, apalagi yang berlatarbelakang seperti saya. Mereka sebagian besar atau – bisa dikatakan – hampir seluruhnya menikah dalam usia muda, antara dua puluh satu sampai dua puluh empat tahun.

Saya bukan ingin menceritakan bahwa saya adalah orang yang patut  dicontoh karena sangat sabar menghadapi masa penantian itu. Justru sebaliknya, yang ingin saya ceritakan adalah betapa kurangnya kesabaran saya menghadapi semua ini. Saya sudah tak ingat lagi betapa banyak airmata terkuras karenanya. Langkah kaki ini pun kadang tertatih-tatih berjalan di antara jatuh dan bangun.

Kini, kalau mengingat semua itu, saya menyesal. Malu rasanya diri ini di hadapan-Nya. Dan entah berapa ”nilai” yang akan diberikan Sang Juri ketika melihat ”prestasi” saya itu. Ingin rasanya memperbaiki, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin yang bisa saya lakukan sekarang adalah bahwa saya harus lebih memperbaiki diri dan senantiasa ridho sepenuh hati pada-Nya. Alhamdulillah, kesempatan itu masih terbuka lebar sebelum Malaikat Izrail datang memanggil.

Banyak orang mengatakan, hal yang tidak disukai dalam hidupnya adalah menunggu. Menunggu memang membosankan, apalagi menunggu sesuatu yang belum pasti terjadi. Tetapi menunggu juga mengasyikkan, karena melatih jiwa menuju sabar. Sabar menunggu janji-Nya yang pasti terjadi, karena Allah Maha Menepati Janji. Seandainya Allah tak memberi untuk kita jodoh di dunia, maka Dia akan memberikannya di akhirat.

Tetap bersyukur dan meyakini bahwa Allah Mahaadil akan menguatkan jiwa kita ketika ujian datang menyapa. Allah mengingatkan kita, ”Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ”Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).  ***


Responses

  1. Sama, saya juga merasa berpendapat begitu. Seandainya saya sebagai lelaki yang boleh memilih sesuka hati, pilihan saya pun akan sama seperti antum. Sayangnya, disaat saya hendak memilih ( walaupun tidak dengan sesuka hati sekalipun), saya masih melajang hingga kini ( usia 25th belum terlalu tua untuk ukuran seorang lelaki lajang). Buat mereka, para umahat yang sudah beruntung mempunyai pendamping hidup dan masih dengan gigih menolak poligami, apakh mereka punya solusi untuk semua ini? saya setuju dengan antum, bahwa semua sudah digariskan.

  2. hmmm… menurutku solusi tetap ada,namun kita harus siap dg segala resikonya.

    menurut saya, melajang diusia berapapun tdk masalah, asal kita dah berikhtiar dan berdo’a. karna semua memang dah ditakdirkan menurut kehendak- Nya, so happy aja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: