Oleh: selendang | April 18, 2008

Gema Tasbih Pelacur Di Surabaya

Suatu hari ada vestival MTQ khusus untuk para pelacur
di kota buaya, Surabaya, yang ditempatkan di
Bangunsari, komplek pelacuran kelas populis terbesar
di kota itu. Tiba-tiba seorang pelacur dengan pakaian
ketat, eksotis dan menantang, datang dengan membawa
tasbih di arena itu. Tasbihnya terus berputar,
sesekali mulutnya komat-kamit, mendesahkan dzikir.
Sebuah pemandangan yang ekstrim!Acara itu cukup mengundang perhatian publik, sekaligus
mengharukan dan menyayat hati. Betapa tidak, acara itu
dimulai dengan pembacaan Shalawat Badar, bak pasukan
hendak menuju medan pertempuran. Mereka berkerudung,
sebagian berjilbab, dan sebagian berpakaian layaknya
pelacur pula, seronok.

Ketika saya diundang untuk mengamati prosesi itu, saya
mendatangi pelacur yang bertasbih. Apa gerangan yang
menimpa nasib hamba Allah yang eksostis ini? “Jangan
dikira, Mas, soal hati dan jiwaku, saya tidak mau
kalah dengan seorang Kiai,”?nbsp; akunya. Sebuah ungkapan
jujur, tulus dan cukup kontroversial, tetapi
benar-benar menusuk jantung saya paling dalam. Saya
terharu mendengarkan kalimat itu, bahkan airmata saya
mulai mengembang tidak terasa.

Saya hanya berfikir sederhana, siapa yang tahu drama
terakhir dari kehidupan seseorang? Siapa tahu hari ini
ia menjadi penjaja nafsu liar, di akhir hayatnya
justru menjadi Kekasih Allah? Siapa tahu ia hanya
melacurkan tubuhnya, sementara hati dan jiwanya hanya
untuk Allah? Siapa tahu dia ini bukan pelacur, tetapi
seorang gadis yang ditugaskan oleh Allah untuk
menyamar sebagai pelacur? Ataukah memang dia pelacur
beneran, dan memiliki tingkat spiritual yang sangat
eksotis, sampai tahap paling ekstrim: dunia pelacur
dan dunia spiritual dalam satu tubuh? Wallahu A’lam.

Belum selesai saya mengakhiri ketercenganan, saya
dikejutkan lagi oleh jawaban yang cukup meruntuhkan
seluruh dada saya, ketika saya bertanya tentang
keluarga dia. ?aya seorang janda Mas, dengan dua
orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki
saya sedang menghafal Al-Qur’an di sebuah pesantren,
sedangkan anak perempuan saya sekolah di madrasah di
kampung, ikut neneknya. Saya melacur ini untuk
membiayai hidup mereka berdua, dan setiap hari saya
berdoa, agar anak saya jadi Ulama yang saleh,
sementara yang perempuan jadi perempuan shalihat yang
berguna.??br>
Perempuan itu menitikkan airmatanya. Meskipun ia
terjerumus ke dalam dunia hitam pelacuran, rupanya ia
berjuang tanpa putus asa, agar dua anaknya menjadi
ahli syurga?

Ditulis oleh: Iput


Responses

  1. Kita di contohkan nabi untuk menghukumu hanya yang terliaht oleh mata, walaupun kita juga harus berhati-hati dengan su’udzon yang berbisik di hati. Haru saja tidaklah cukup. Tindakan dan kepedulian kita lebih lanjut itulah yang bisa membawa perubahan. Maju terus. Masih banyak kaum yang memb utuhkan pencerahan. Salam perjuangan dari saya

  2. yup benar, aku sendiri sependapat dg mu.
    bukankah Allah Maha Pemaaf bagi hamba2nya yg mau bertobat dg yg sesungguhnya (istiqamah).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: