Oleh: selendang | September 21, 2007

Kado Cinta….

Kasih Yang Sebenarnya

Suatu malam, di sebuah
stasiun radio, sedang berlangsung acara
dimana orang-orang berbagi
pengalaman hidup mereka. Perhatian saya
yang semula tercurah pada
tugas statistik beralih ketika seorang
wanita bercerita tentang
ayahnya.

Wanita ini adalah anak
tunggal dari sebuah keluarga sederhana
yang
tinggal di pinggiran kota
Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi
oleh ayahnya. Di mata sang
ayah, tak satupun yang dikerjakan
olehnya
benar.

Setiap hari ia berusaha
keras untuk melakukan segala sesuatu
sesuai
dengan keinginan ayahnya,
namun tetap saja hanya ketidakpuasan
sang
ayah yang ia dapatkan.

Pada waktu ia berumur 17
tahun, tak sepatah ucapan selamat pun
yang
keluar dari mulut ayahnya.
Hal ini membuat wanita itu semakin
membenci ayahnya. Sosok
ayah yang melekat dalam dirinya adalah
sosok
yang pemarah dan tidak
memperhatikan dirinya.

Akhirnya ia memberontak
dan tak pernah satu hari pun ia lewati
tanpa
bertengkar dengan ayahnya.
Beberapa hari setelah ulang tahun yang
ke-17, ayah wanita itu
meninggal dunia akibat penyakit kanker
yang
tak pernah ia ceritakan
kepada siapapun kecuali pada istrinya.

Walaupun merasa sedih dan
kehilangan, namun di dalam diri wanita
itu
masih tersimpan rasa benci
terhadap ayahnya. Suatu hari ketika
membantu ibunya
membereskan barang-barang peninggalan
almarhum, ia
menemukan sebuah bingkisan
yang dibungkus dengan rapi dan
diatasnya
tertulis “Untuk Anakku
Tersayang”.

Dengan hati-hati
diambilnya bingkisan tersebut dan
mulai membukanya.
Di dalamnya terdapat
sebuah jam tangan dan sebuah buku yang
telah
lama ia idam-idamkan.

Disamping kedua benda itu,
terdapat sebuah kartu ucapan berwarna
merah muda, warna
kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu
tersebut
dan mulai membaca tulisan
yang ada di dalamnya, yang ia kenali
betul
sebagai tulisan tangan
ayahnya.

Ya Tuhan,Terima kasih
karena Engkau mempercayai diriku yang
rendah
ini. Untuk memperoleh
karunia terbesar dalam hidupku.
Kumohon Ya
Tuhan, Jadikan buah kasih
hambaMu ini Orang yang berarti bagi
sesamanya dan bagiMu.

Jangan kau berikan jalan
yang lurus dan luas membentang. Berikan
pula jalan yang penuh liku
dan duri Agar ia dapat meresapi
kehidupan
dengan seutuhnya.

Sekali lagi kumohon Ya
Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap
langkah
yang ia tempuh Jadikan ia
sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang
tahun anakku Doa ayah
selalu menyertaimu

Meledaklah tangis sang
anak usai membaca tulisan yang
terdapat dalam
kartu tersebut. Ibunya
menghampiri dan menanyakan apa yang
terjadi.
Dalam pelukan ibunya, ia
menceritakan semua tentang bingkisan
dan
tulisan yang terdapat
dalam kartu ulang tahunnya.

Ibu wanita itu akhirnya
menceritakan bahwa ayah memang sengaja
merahasiakan penyakitnya
dan mendidik anaknya dengan keras agar
sang
anak menjadi wanita yang
kuat, tegar dan tidak terlalu
kehilangan
sosok ayahnya ketika ajal
menjemput akibat penyakit yang diderita
……..

Pada akhir acara, wanita
itu mengingatkan para pemirsa agar
tidak
selalu melihat apa yang
kita lihat dengan kedua mata kita.
Lihatlah
juga segala sesuatu dengan
mata hati kita. Apa yang kita lihat
dengan kedua mata kita
terkadang tidak sepenuhnya seperti apa
yang
sebenarnya terjadi.

“Kasih seorang ayah,
seorang ibu, saudara-saudara, orang-
orang
disekitar kita, dan
terutama kasih Tuhan dilimpahkan pada
kita
dengan berbagai cara.
Sekarang tinggal bagaimana kita
menerima,
menyerap, mengartikan dan
membalas kasih sayang itu”, kata wanita
tersebut menutup acara
pada malam hari itu.

by : ragil manis


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: