Oleh: selendang | Juni 12, 2007

Api Hijaz dan Lumpur Sidoarjo

Catatan Sejarah kota Madinah:

Selasa, malam Rabu, 3 Jumadil Akhir 654 Hijriyah. Enam abad lebih sesudah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam wafat. Dini hari sudah menjelang habis, tapi subuh masih agak jauh, ketika warga kota Madinah dibangunkan dari tidurnya karena ada suara menggelegar, yang disusul terjadinya gempa besar mengguncangkan tanah, dinding, atap, kayu, dan pintu. Kejadian itu berlangsung selama 3 hari berturut-turut sampai hari Jumat tanggal 5 bulan tersebut.

Kemudian muncul api raksasa di Harrah dekat Quraizah, di pinggiran Madinah. Orang-orang yang tinggal di pusat kota bisa melihat api yang mengamuk itu dari rumahnya, seakan ada di samping mereka, karena begitu dekatnya. Lidah apinya lebih besar dari tiga buah menara. Api itu kemudian dilaporkan mengalir ke wadi (oase) Syahza seperti air yang mengalir di sungai, dan akhirnya api itu menghentikan aliran air di wadi Syahza sehingga tidak mengalir lagi.

Sesudah api menyebar tiba-tiba gunung-gunung batu di sekitar Madinah berubah menjadi lautan api, sehingga menutup Herat yang merupakan jalur haji dari arah Iraq. Api itu terus merambat sampai ke Herat dan berhenti, lalu api itu kembali menjalar ke arah timur. Dari tengah-tengah api muncul bukit-bukit api yang melahap batu-batu.

Seorang ‘alim Madinah pada masa itu, Abu Syamah, atau nama lengkapnya Imam al-‘Allamah al-Hafizh Syihab ad-Din Abu Syamah al-Maqdisi menulis sebuah catatan yang dua abad kemudian dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah: “..dari api itu muncul oase api seluas 12 mil, panjang 4 mil, dan  dalamnya 1,5 kaki. Api itu menjalar di muka bumi dan memunculkan  bukit-bukit kecil, dan merambat di permukaan tanah sehingga batu-batu  meleleh..”

Abu Syamah menutup catatannya yang sangat panjang dengan kalimat ini.. “..Ada keanehan-keanehan yang tak dapat saya jelaskan kepadamu secara  detil. Matahari dan bulan mengalami gerhana sampai sekarang. Saat surat  ini ditulis, api sudah terus menyala selama sebulan, dan tetap di  tempatnya, tidak maju, tidak mundur…”

Sahabat Abu Syamah, seorang hakim di Madinah yang juga hidup di masa itu, memiliki catatannya sendiri tentang peristiwa dahsyat itu. Beliau bernama Syeikh Syams ad-Din ibn Sinan ibn Abd al-Wahhab ibn Namilah al-Husaini. Begini catatan beliau: “Aku pergi menemui Emir (walikota) Madinah dan berkata kepadanya,  “Kita telah dikepung azab. Kembalilah kepada ALLAH! Bebaskan semua  milik-milik-Nya dan kembalikan harta-harta mereka!” Ketika Emir  melakukan hal itu, aku berseru, “Turunlah bersama kami saat ini ke  (makam) Nabi SAW!” Lalu ia turun dan kami bermalam pada malam  Sabtu bersama semua pria, wanita, dan anak-anak. Tak seorangpun di  desa atau di Madinah kecuali berada di samping Nabi SAW. Kemudian api  merambat sampai ke lembah Ajilain dan menutup jalan…

Surat ini dibuat pada tanggal 5 Rajab (sebulan lebih 2 hari sejak api itu  muncul)..”

Catatan lain yang dipetik Abu Syamah berasal dari seorang tokoh Bani al-Kasyani, suatu kabilah di Madinah. Mereka menulis: “.. Orang-orang berdatangan ke Masjid Nabawi. Mereka berkumpul  semuanya dan berpasrah diri kepada ALLAH… Pada saat itu orang-orang  sudah yakin akan turunnya azab. Pada malam itu manusia semuanya  shalat, membaca Al-Qur’an, ruku’ dan sujud, berdoa kepada ALLAH,  menyesali dosa-dosanya, beristighfar dan bertaubat..

Seorang ‘alim di Basrah, Syam, bernama Shadr ad-Din Ali ibn Abu al-Qasim at-Tamimi al-Hanafi, ketika peristiwa besar ini terjadi baru berusia 12 tahun. Kelak ia menjadi ‘alim terkemuka di Damaskus. Ia menulis, “Aku mendengar seorang badui memberitakan kepada ayahku di Basrah pada malam-malam tersebut, bahwa mereka melihat punuk-punuk unta yang terkena cahaya api yang muncul di tanah Hijaz.”

Banyak ulama di masa itu dan sesudahnya berkesimpulan, bahwa api raksasa yang muncul di Hijaz begitu besarnya sampai menerangi punuk-punuk unta di Basrah, yang jaraknya sekitar 2 bulan perjalanan dengan unta, adalah salah satu kebenaran kabar yang pernah disampaikan Rasulullah .

Shahabat beliau Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai keluar api dari tanah Hijaz, menerangi punuk-punuk unta di Basrah.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

“Umar Sulayman al-Asyqar, seorang ‘alim yang hingga kini masih aktif mengajar dan produktif menulis di Damaskus, memasukkan “Api Hijaz”  sebagai salah satu dari empat tanda kiamat yang sudah terjadi dan tidak akan terulang lagi (Keempat tanda itu: diutus dan wafatnya Rasulullah SAW.; terbelahnya bulan; api di Hijaz yang menerangi punuk-punuk unta di Basrah, dan; terhapusnya jizyah atau pajak untuk orang kafir dzimmi, yang tidak memerangi Islam).

Sekarang kita beralih ke Sidoarjo. Enam bulan yang lalu, tepatnya 29 Mei 2006, sebuah sumur gas yang sedang dieksplorasi di kecamatan Porong, menyemburkan lumpur panas-beracun. “Judulnya rakus,” kata seorang ahli perminyakan, mengomentari kelakuan PT Lapindo Brantas yang sudah tahu ada lapisan lumpur masif tapi memaksakan alatnya hendak menjangkau kandungan gas ratusan meter di bawah lumpur. Sekitar 1500 warga desa Renokenongo segera dievakuasi karena lumpur itu membanjiri rumah dan tanah mereka. Dalam jangka waktu 12 hari jalan tol paling vital di Jawa Timur, kilometer 8 ruas Gempol-Sidoarjo yang merupakan jalur utama pengangkutan barang dari kawasan Selatan menuju pelabuhan Tanjung Perak ditutup karena diluberi lumpur. Pada akhir bulan Juni 2006 warga yang terpaksa mengungsi sudah berjumlah 6138 jiwa. Sesudah itu, tanggul demi tanggul yang dibuat untuk menahan luapan lumpur jebol. Puncaknya pekan lalu, tanggul yang menahan lumpur agar tak luber lagi ke jalan tol jebol lagi. Bahkan, pipa gas pertamina yang ada di sisi jalan tol patah dan meledak dahsyat. Belasan orang, baik petugas maupun pengguna jalan tol, tewas. Sebagian tenggelam oleh ‘tsunami’ lumpur.

Tim gabungan ITB, UGM, dan ITS (pusat-pusat kehebatan teknologi manusia Indonesia) bulan Agustus lalu menyimpulkan, lumpur itu berasal dari pegunungan lumpur (mud mountain) yang ada di bawah Porong. Pegunungan itu lebarnya 20 km dan panjangnya 200 km. Puncak pegunungan lumpur itu berkisar antara 600-1000 meter di bawah permukaan tanah Porong. Tidak ada profesor geologi manapun di Indonesia yang tahu kapan lumpur itu akan berhenti menyembur. Pertama kali menyembur, lumpur itu keluar 5000 meter kubik per hari. Pada akhir tahun ini, diperkirakan volume banjir lumpur akan melebihi 10 juta meter kubik. Dua kali lebih banyak dari volume kubah lava puncak Merapi. Kabarnya juga, setelah diteliti, usia lumpur panas dan beracun itu lebih tua daripada usia pulau Jawa yang sudah jutaan tahun. Hebatnya lagi, ternyata pegunungan lumpur seperti di Porong, Sidoarjo ini masih terdapat di 6 titik lain lagi yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Jawa Timur pelan-pelan melemah, mungkin akan lumpuh. Porong akan tenggelam, mungkin akan amblas. Sidarjo dilanda kecemasan.

Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, kabarnya sudah berkali-kali menolak dukun yang menawari jasa mistik dengan bayaran tertentu untuk menghentikan lumpur panas-beracun. Beberapa orang ada yang melempar sesajen, entah untuk siapa, dengan mantra-mantra syirik ke dalam sumber lumpur.

Bagus, Bupati Hendrarso menolak kemusyrikan, tapi sayangnya, kalimat tauhid itu belum lengkap. Menolak segala bentuk ilah, seperti kepercayaan mistik dan teknologi, sudah mencapai separo kebenaran. Itu akan sepenuhnya sempurna benar jika dilanjutkan dengan, hanya meng-ilah-kan ALLAH. Kalimat Bupati Hendrarso baru sampai, “Laa ilaaha… Tidak ada ilah..” Seyogyanya disempurnakan dengan, “illaLLAAH… kecuali ALLAH..”

Bertaubat. Memenuhi dada dengan istighfar. Menghentikan semua korupsi dan penipuan terhadap rakyat. Membagikan semua kekayaan, terutama yang di luar hak kita. Membuang semua keyakinan kecuali yang bersumber dari ALLAH. Merevisi semua hukum yang berlawanan dengan tuntunan ALLAH. Mentaati semua perintah ALLAH. Menghentikan semua kemaksiatan. Merintih kepada ALLAH. Mengakui bahwa kita tak mampu apa-apa tanpa pertolongan ALLAH.

Peristiwa api Hijaz memberi pelajaran penting. Kita sudah dilibas tsunami di Aceh, Sumatera Utara, juga Pangandaran. Kita sudah digentarkan Merapi. Kita sudah dihajar gempa di Jogja-Klaten. Kita sudah digelontor banjir bandang dan longsor mengerikan di Sinjai dan Jember. Banyak lagi. Semua musibah dan azab itu spontan. Sebentar sesudahnya kita lupa dan hidup seenaknya lagi. Mungkin di mata ALLAH bangsa ini dianggap “murid SLB” yang harus diberi pelajaran agak pelan dan lama, dengan terapi khusus. Maka lumpur panas dan beracun disemburkan pelan-pelan melahap kebanggaan-kebanggaan kita, sampai kita tersungkur bersujud.

Tiada daun yang jatuh ke bumi yang kita diami ini yang di luar kendali ALLAH. Jika kita sudah enggan bersikap tawadhu dan mentaati ALLAH, silakan kita pergi dari bumi ALLAH, dan carilah tuhan selain ALLAH.

sumber http://kisahislam.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: