Oleh: selendang | Mei 28, 2007

Profil Eks-BMI

sumber http://www.tabloidapakabar.com/

 

Profil Eks-BMI
Usaha Depo Isi Ulang Air Minum Mineral

MALANG – Dua dasawarsa yang lalu, berjualan air minum mungkin masih terdengar aneh. Kebanyakan orang saat itu terheran-heran dengan diluncurkannya produk air minum mineral dalam kemasan. Sekilas, produk tersebut sama saja dengan air minum yang biasa direbus oleh kita-kita. Namun, air minum kemasan – yang berani memberikan jaminan higienis, karena produknya steril dan memiliki kandungan mineral bagus untuk dikonsumsi manusia – terbukti sukses. Kelak, seiring guliran waktu, sebagian masyarakat justru memiliki ketergantungan terhadap air minum mineral ini dengan berbagai alasan.

Untuk konsumsi rumah tangga, saat ini beredar banyak produk air minum mineral dalam kemasan galon 20 liter. Pola konsumsi yang mulai berubah ini, bagi sebagian orang, dilihat sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Wajar, seperti halnya makanan, air minum merupakan kebutuhan primer manusia. Dengan keuntungan lebih praktis, rumah tangga yang (terutama) memiliki kesibukan tinggi cenderung akan menggunakan air minum dalam kemasan. Nah, peluang inilah yang dimasuki oleh Rika Arrahim, BMI alumnus Hong Kong (2005), dengan menjalankan bisnis depo jasa isi ulang air mineral.

Untuk menjalankan usahanya, bekas aktivis salah satu halaqah di Hong Kong ini memilih tempat di kawasan kampus Universitas Brawijaya Malang. Rika didampingi oleh Nasruddin Umar, suaminya. Seperti diketahui, depo jasa isi ulang air minum mineral adalah layanan jasa penjualan air mineral di mana konsumen menyediakan galon sendiri. Air ini tidak berlabel, sehingga harga jualnya jauh lebih murah dari air mineral bermerek.

Meski tak bermerek, kualitas air isi ulang ini dijamin tidak berbeda dengan air mineral bermerek. Jika harga jual air mineral bermerek berkisar antara Rp 7-9 ribu per galon, air mineral isi ulang hanya dijual Rp 3.500. per galon. Rika sengaja memilih kawasan kampus sebagai lokasi usaha, dengan alasan, di kawasan ini terdapat ribuan mahasiswa kos. Merekalah target pasar utama usaha ini.

Rika lahir di Salatiga, 26 tahun yang lalu. Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di sebuah universitas swasta di Surakarta. Namun, karena keterbatasan biaya, pada semester kedua Rika terpaksa berhenti dari rutinitas akademisnya. Beberapa bulan kemudian, ia mempersiapkan diri untuk bekerja ke Hong Kong.

Selama di Hong Kong inilah Rika tekun belajar berwiraswasta. Berbagai penyuluhan dan pelatihan ia sambar, utamanya yang diselenggarakan kelompok pengajian yang aktif ia ikuti. Hingga, pada tahun ketiga di Hong Kong, Rika mengenal Nasruddin Umar, laki-laki asal Kudus yang saat itu mahasiswa Fakultas Ekonomi Unibraw, dari milis ukhuwah di Internet. Perkenalan berlanjut pada terbangunnya komitmen untuk sehidup semati bersama dalam ikatan tali cinta.

Ide membangun usaha depo isi ulang air mineral ini didapat dari sang suami. Kala itu, menjelang mereka menikah, Umar banyak memberi gambaran peluang usaha yang bisa dijalankan di kawasan kampus. Khususnya, kawasan Universitas Brawijaya Malang, tempat Umar tinggal lebih dari lima tahun.

Menurut Rika, modal awalnya saat mendirikan usaha ini sebesar Rp 25 juta. Dari jumlah itu, Rp 18 juta untuk membeli perangkat mesin sterilisasi, lengkap dengan tandon penampung air berukuran medium (5.500 liter), sedangkan sisanya untuk sewa tempat berikut renovasi.

Setelah memasuki tahun kedua, usaha yang beroperasi sejak pukul 7 pagi hingga 22 malam ini bisa berjalan normal, di mana setiap hari biasa melayani 30 s.d. 50 galon air. Harga jual setiap galon Rp 3.500. Dengan demikian, jika diambil rata-rata setiap hari melayani 40 galon, pemasukan kotor yang diterima Rika setiap bulan mencapai Rp 4.200.000. Nilai ini didapat dari harga jual per galon Rp 3.500. dikalikan 40 galon dikalikan 30 hari.

Sedangkan biaya operasional setiap bulan diperkirakan sebesar Rp 1.729.000. Jumlah tersebut meliputi pengeluaran untuk membeli 4 tangki air mineral berkapasitas 6.000 liter/tangki sebesar Rp 600 ribu (@ Rp 50 ribu/tangki), tagihan rekening listrik Rp 100 ribu, gaji 3 karyawan (@ Rp 300 ribu) = Rp 900 ribu, alat tulis kantor Rp 50 ribu, tisu basah Rp 14 ribu, dan tutup galon Rp 65 ribu.

Dari nilai tersebut, keuntungan bersih yang masuk ke kantong Rika setiap bulan sekitar Rp 2.471.000. Angka ini didapat dari pemasukan kotor setiap bulan Rp 4.200.000. – Rp 1.729.000. Dus, dengan modal awal Rp 25 juta, menurut kalkulasi Rika, balik modal (BEP) akan bisa dicapai pada bulan ke-11. Tertarik?! [AA Syifa’i SA]


Responses

  1. ta protes neh, sumbernya disebutkan dong. misale ngambil dari kompas kek, detik kek ato dari laci tetangga sebelah juga gpp hehehehehe

  2. hehe…lupa nulis sumber nya
    makasih ya mbak/mas arca telah mau mengingatkan nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: