Oleh: selendang | Mei 15, 2007

Imam Lestari-Minarti

sumber http://www.tabloidapakabar.com/

Imam Lestari-Minarti, Perum Sawojajar 2, Kota Malang
”Ndhuk, Kami Restui Rencana Pernikahanmu.”

 

Tuhan memisahkan sosok jiwa dari diri-Nya dan menjadikannya keindahan. Ia curahkan ke atas jiwa ini segala berkah keanggunan dan kemurahan. Ia beri jiwa ini cawan kebahagiaan dan berkata, ”Janganlah minum dari cawan ini kecuali engkau ingin melupakan masa lalu dan masa depan, sebab kebahagiaan hanyalah untuk saat ini.”

Dan, Ia juga memberi jiwa ini cawan kesedihan dan berkata, ”Minumlah dari cawan ini, maka engkau akan menghargai suka cita yang cepat berlalu dalam kehidupan, sebab kesedihan itu selamanya ada di mana-mana.” Tuhan menganugerahi cinta yang akan meninggalkannya selamanya begitu ia melihat kepuasan duniawi dan sesuatu yang manis akan lenyap begitu ia sadar akan pujian (Kahlil Gibran)

Begitulah ungkapan yang bisa mewakili betapa seorang Imam Lestari selalu menanamkan arti kehidupan kepada istri dan kedua putrinya. Dalam keadaan senang, jangan sampai lupa daratan; dalam keadaan terimpit susah, jangan sampai melupakan Tuhan. Karena itu, keputusan putri pertamanya – Wiji Utami atau Uut – untuk bekerja ke Hong Kong pun harus diterima dengan ikhlas dan dihargai sebagai sebuah proses pendidikan hidup. Di mana ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak pernah sekalipun diajarkan di bangku sekolah formal. Kepada Apakabar, Imam bersama istrinya, Minarti, bertutur panjang lebar tentang kerinduannya kepada Uut.
 
***
 
Imam Lestari, Ayahanda Wiji Utami:
”Uut anakku wedok, sebagai kepala keluarga, ayah, dan sebagai apa pun, bapak sangat berterima kasih dengan jerih payahmu selama ini. Dulu, hampir enam tahun yang lalu, saat menyadari keberangkatanmu ke Hong Kong untuk pertama kali, bapak merasa ketar-ketir. Setiap hari selalu mengkhawatirkan keadaanmu. Hong Kong itu kan jauh. Kalau ada apa-apa, bapak dan ibu tidak akan mungkin bisa menjengukmu. Apalagi, budaya dan bahasanya juga lain. Namun masa-masa itu telah berlalu. Kekhawatian bapak dan ibu sekarang sudah tidak seperti saat pertama kamu berangkat.

Dalam doa, tak henti-hentinya bapak memanjatkan puji syukur ke haribaan Allah swt, lewat sepak terjangmulah Allah telah banyak melimpahkan rahmat dan rizki halal buat keluarga kita. Adikmu bisa selesai sekolah, dan – sebagai keluarga – kita pun sekarang punya tempat tinggal yang layak. Tidak seperti dulu saat kamu masih sekolah.

Tentu awakmu masih kelingan kan ndhuk, saat kontrakan rumah kita habis. Oleh pemilik rumah, kita seperti diusir untuk pergi secepatnya mencari tempat baru. Bapak minta toleransi satu minggu saja tidak dikasih. Beruntung, kita sekeluarga akhirnya mendapat tempat di masjid untuk sekadar nunut beberapa waktu, sebelum akhirnya kita mendapatkan tempat tinggal yang sekarang.

Yang membuat bapak prihatin banget waktu itu, kita ”diusir” menjelang ujian akhir sekolahmu. Bapak khawatir belajarmu akan terganggu. Tapi alhamdulillah, kita bisa melewatinya dengan baik dan ujianmu pun lulus. Sebagai ayah, tentu bapak merasa bersalah saat itu, karena telah membuat pontang-panting anggota keluarga. Namun, kepasrahan kita kepada Allah ternyata tidak dibiarkan begitu saja. Setelah saatnya tepat, Allah mengangkat kita dari setiap kesulitan yang diujikan.

Ndhuk, sepak terjangmu, perjuangan dan kegigihanmu dalam hidup sekarang mengingatkan bapak pada perjuangan dan aktivitas bapak di masa lalu sebelum kamu lahir. Meski yang tersisa sekarang tinggal semangat untuk tetap memegang teguh sebuah idealisme, meskipun harus terbayar dengan sebuah kemelaratan sekalipun, tetapi menurut bapak justru di situlah letak kehormatan hakikat kemanusiaan kita, terutama di hadapan Sang Pencipta.

Bapak bangga saat mendengar lingkungan pergaulanmu, teman-temanmu dan aktivitasmu di Hong Kong lebih banyak di lingkungan orang-orang berjilbab. Bagaimana pun, peran lingkungan – terutama teman dekat – sangat besar dalam menentukan arah perjalanan. Apakah kita akan menyimpang atau tetap lurus di jalan-Nya.

Ndhuk, pesan bapak, berhati-hatilah dalam bekerja dan bergaul dengan siapa saja. Jangan pernah berhenti berdoa dan mendoakan, sebagaimana yang dicontohkan oleh junjungan Nabi Muhammad saw. Bagaimanapun, doa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan apa saja. Seperti dulu kita pernah melewati masa sulit, selain berikhtiar, jalan keluar yang paling utama adalah doa. Dekat dengan sang pencipta membuat hidup jadi tenang, nyaman, dan aman.

Juga sebagai wanita, bila sudah tiba saatnya, kamu pasti akan menjadi istri dari suamimu, ibu dari anak-anakmu, serta ibu dari rumah tangga tempatmu bernaung. Persiapkanlah dirimu sebaik-baiknya untuk menuju ke sana. Seperti yang pernah diserukan oleh nabi, supaya kita bisa menjadikan rumah tangga sebagai surga di dunia. Hal itu akan terwujud apabila kamu telah mempersiapkan sebaik-baiknya. Tapi jika kamu salah atau lengah dalam mempersiapkan dan menjaga, sangat mungkin rumah tanggamu kelak akan menjadi neraka di dunia. Jadikanlah peristiwa-peristiwa yang pernah dialami orang lain sebagai pelajaran untuk tidak menirunya. Bapak merasa, saat itu semakin dekat. Usiamu semakin dewasa dan sudah memenuhi rukun dan syarat untuk menikah.

Ndhuk, satu hal lagi yang harus kamu pegang: pada saat kamu bisa menjadi istri dan ibu rumah tangga yang sukses, sebenarnya kamu telah bisa menjadi wanita yang berguna bagi negara, bangsa dan agama. Dunia dan akhirat. Tanpa perlu menjadi menteri, pejabat atau apa pun. Dengan membina rumah tangga yang mampu menghasilkan dan mendidik keturunan yang shaleh, shalehah, cerdas dan berbudi pekerti luhur, saat itu kamu telah mampu memberikan putra bangsa yang terbaik. Terakhir, jangan lupa, sering-seringlah bersedekah meskipun hanya sebesar biji zahra.”
 
Minarti, Ibunda Wiji Utami:
”Ndhuk Uut, kamu tentu tahu, kedua orang tuamu kini sudah semakin beranjak senja, belum cukupkah dengan apa yang kamu kejar di Hong Kong saat ini? Seperti umumnya orang tua, bapak dan ibu tentu juga sangat menginginkan melewati masa tua di dekat anak cucunya. Karena, bagaimanapun, kebahagiaan dan kebanggaan orang tua adalah ketika melihat kebahagiaan dan keberhasilan hidup anak-anaknya.

Ndhuk, sejak kamu memperkenalkan seorang laki-laki dari Ponorogo hampir dua tahun yang lalu, bapak dan ibu jadi menyadari kalau usiamu memang sudah waktunya untuk berumah tangga. Memang, saat itu ibu belum mengizinkan kalian menikah, saat Eko meminta pernikahan segera diselenggarakan. Bagi ibu, menikahkan anak adalah bagian dari tanggung jawab orang tua terhadap anaknya selain mendidik, membesarkan dan menyekolahkan. Tetapi, kejadian itu sudah berlalu hampir dua tahun, dan sepertinya ibu melihat keseriusan di antara kalian untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan.

Ibu merestui rencana pernikahan kalian kok, ndhuk. Hanya, ibu tidak ingin, setelah kalian menikah nanti kalian akan berpisah lagi. Yang ibu inginkan, setelah menikah, kalian harus hidup serumah supaya cita-cita untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah itu bisa terwujud dengan sempurna. Sekali lagi ndhuk, bila setahun lagi kontrak kerjamu habis dan kamu memutuskan pulang untuk menikah, ibu minta kamu harus benar-benar pulang. Tidak kembali lagi bekerja ke Hong Kong seperti yang dilakukan oleh banyak orang selama ini. Sebab, bila kamu nekat kembali lagi ke Hong Kong, risikonya besar sekali ndhuk. Keutuhan rumah tanggamu menjadi taruhan.” (***)

Cita-cita Kerja di Dunia PariwisataWiji Utami – akrab dipanggil Uut – lahir di Lemah Tanjung Malang, 1982, sebagai putri pertama dari pasangan Imam Lestari (60) dan Minarti (44). Beberapa tahun setelah lahir, sang bapak mendapat tugas dinas ke kawasan Sidenreng, Rapang, Sulawesi Selatan. Karenanya, Uut memulai pendidikan SD di Sidenreng Rapang, meski hanya sampai kelas 5. Tugas orang tua sebagai petugas penyuluh pertanian membuat masa kelas 6 SD mesti ia selesaikan di SD Tanjung Kasin, Malang.Begitu juga dengan masa SMP. Sekilas, yang dialami Uut dengan perpindahan itu adalah sebuah ketertinggalan kualitas pendidikan. Maklum, Rapang dengan Malang memang berbeda. Tetapi, di balik semua itu, Uut kecil telah mendapat banyak pengalaman lintas kultural yang tidak dialami oleh semua teman sekolahnya, baik di Malang maupun di Sidenreng Rapang.

Sejak kecil, Uut bercita-cita bekerja dalam profesi yang selalu berkaitan dengan pariwisata. Mungkin karena pengalaman lintas kultural pada masa kecilnya itulah yang membangun cita-cita ini. Betapa Uut telah melihat potensi alam dan budaya yang dimiliki Indonesia sangat menarik, dan layak menjadi komoditas pariwisata. Karena cita-cita itulah, selepas SMP, Uut melanjutkan ke SMK Pariwisata hingga lulus tahun 2000.

Bagi Uut, memilih SMK lebih karena sekolah kejuruan itu merupakan lembaga pendidikan yang mencetak tenaga siap pakai. Alumninya lebih mudah terserap di dunia kerja sesuai dengan bidang keilmuan dan keahlian masing-masing. Dengan demikian, masuk SMK Pariwisata merupakan solusi untuk mewujudkan cita-cita.

Namun, setamat Uut dari SMK Pariwisata, segalanya telah berubah. Kenyataan berbicara lain. Kondisi perekonomian Indonesia yang barusan dilanda krisis, ternyata tidak menguntungkan bagi perkembangan dunia pariwisata. Beberapa saat setelah kerusuhan etnis mendera ibu pertiwi, bom meledak di mana-mana. Dunia pariwisata pun seakan mati. Di mata dunia, yang tampak di Indonesia hanyalah pertumpahan darah. Beberapa negara memberikan travel warning kepada warganya untuk tidak berkunjung, apalagi berwisata ke Indonesia. Pupus sudah cita-cita Uut.

Namun, kesadaran Uut sebagai anak pertama, membangunkan dia dari alam cita-cita untuk lebih realistis menghadapi kenyataan. Sebagai manusia, Uut telah berencana dan berikhtiar, namun keputusan mutlak tetap di tangan Tuhan. Cita-cita boleh melambung tinggi, tetapi sebagai manusia tentunya kaki harus tetap menginjak bumi. Mungkin, itulah yang terpikirkan oleh Uut tatkala menyadari waktu terus berjalan, keluarga dan adiknya juga butuh masa depan. Niatan Uut untuk mengangkat taraf kesejahteraan keluarga tak bisa dibendung lagi. Kenyataan yang kian menampakkan guratan usia senja pada wajah orang tuanya, semakin membulatkan tekad Uut untuk segera berbuat sesuatu.

Alhasil, setelah melewati proses berpikir serius, mempertimbangkan banyak hal dan mendapat restu dari orang tua, pada awal 2001 keputusan Uut untuk merantau ke Hong Kong tak bisa lagi ditahan. Sebuah keputusan yang jauh-jauh hari sebelumnya tak pernah terbersit akan dipilih, apalagi dicita-citakan. Tetapi, itulah suratan takdir. Bila Uut kecil bercita-cita ingin mendedikasikan hidup dalam dunia pariwisata, Tuhan ternyata memberi keputusan Uut untuk ”berwisata” ke Negeri Beton, tentu saja sembari bekerja. [AA Syifa’i SA]


Responses

  1. wah, iki juga ga disebutin sumbernya. Iki kan ngambil dari laci meja pak lurah desa tetangga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: